Banten

Bukan Damkar, Seleksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Disuruh Firewalk di Atas Api: Berbahaya dan Tuai Kecaman!

Abdurahman | 1 Agustus 2026, 14:13 WIB
Bukan Damkar, Seleksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Disuruh Firewalk di Atas Api: Berbahaya dan Tuai Kecaman!
BERJALAN DIATAS API Viral rekaman video, diduga pelatihan calon pegawai BPJS dengan cara yang tergolong berbahaya (Instagram.com/@resetfeeds-@melaniesubono)

AKURAT BANTEN-Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah tayangan video kontroversial yang memperlihatkan sekelompok orang—yang diduga merupakan calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan—menjalani pelatihan ekstrem berupa berjalan di atas bara api (firewalk).

Video yang mendadak viral ini langsung memicu sorotan tajam dari warganet hingga para pengamat publik.

Banyak pihak mempertanyakan relevansi serta urgensi metode pelatihan ekstrem tersebut bagi para profesional yang nantinya akan mengurus jaminan sosial tenaga kerja.

Baca Juga: Perang Predator Dimulai! Haaland dan Kane Saling Sikut Rebut Tahta Raja Gol Eropa!

Kronologi Singkat: Aksi Menegangkan Berbalut Yel-Yel Jamsostek

Berdasarkan penelusuran, video tersebut pertama kali mencuat dan menjadi perbincangan hangat setelah diunggah melalui akun Instagram @melaniesubono pada Jumat, 31 Juli 2026.

Dalam rekaman berdurasi singkat itu, tampak sejumlah peserta dengan tegang berjalan di atas hamparan bara api menyala, didampingi oleh instruktur atau pemandu khusus.

Selesai melewati tantangan tersebut, salah satu peserta tampak berseru dengan nada tegang:

Lapor! Telah selesai melakukan firewalk. Laporan selesai!

Suasana di lokasi semakin mencuri perhatian publik tatkala para peserta secara serempak meneriakkan yel-yel kebanggaan: "Jamsostek, Jamsostek, Jamsostek, Jaya!" di tengah atmosfer pelatihan yang menegangkan.

Baca Juga: Direktur PT WSU Jadi Tersangka, Kejari Kota Tangerang Usut Dugaan Korupsi Kerja Sama Pesawat Rp5,49 Miliar

Sorotan Tajam: Seleksi Pegawai Dibandingkan dengan Profesi Pemadam Kebakaran

Unggahan tersebut seketika dibanjiri komentar pedas dan tanda tanya besar dari warganet.

Publik mempertanyakan korelasi logis antara kemampuan berjalan di atas api dengan standar kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang pegawai lembaga pengelola jaminan sosial.

Banyak warganet menilai bahwa metode pelatihan semacam ini tidak hanya berlebihan, tetapi juga salah sasaran.

Sejumlah netizen bahkan membandingkan bahwa seleksi untuk profesi berisiko tinggi seperti pemadam kebakaran (Damkar) saja tidak pernah menggunakan metode ekstrem yang membahayakan keselamatan fisik peserta seperti ini.

Catatan Publik: Bahkan untuk masuk tim penyelamat atau pemadam kebakaran yang jelas-jelas berjibaku dengan api, proses seleksinya menguji ketahanan fisik dan mental yang terukur secara ilmiah, bukan sekadar berjalan di atas bara api tanpa relevansi profesi.

Aktivis sekaligus publik figur, Melanie Subono, turut melontarkan kritik satir melalui akun media sosialnya menanggapi video tersebut:

Skill penting calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan harus bisa jalan di atas api. Kira-kiranya berapa budget pelatihan ini? tulis Melanie dalam unggahannya.

Baca Juga: Operasi Galacticos Jilid Baru: Real Madrid Serius Culik Rodri dari Manchester City

Kecaman Keras dari BPJS Watch: "Sangat Tidak Tepat dan Berisiko!"

Kritik tajam tidak hanya datang dari kalangan warganet dan pegiat sosial, tetapi juga dari lembaga pengawas independen.

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, secara tegas mengecam pelaksanaan pelatihan firewalk bagi calon pekerja BPJS Ketenagakerjaan tersebut.

Menurut Timboel, aktivitas berjalan di atas bara api sama sekali tidak memiliki irisan maupun relevansi dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang nantinya akan diemban oleh para pegawai di lingkungan BPJS Ketenagakerjaan.

Pelatihan berjalan di atas api bagi calon pekerja BPJS Ketenagakerjaan sangat tidak tepat dan harus disesalkan. Saya tidak melihat adanya urgensi kegiatan tersebut dalam menunjang pekerjaan mereka di BPJS Ketenagakerjaan, ujar Timboel dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Selain mempertanyakan urgensinya, Timboel juga menyoroti aspek keselamatan kerja (K3) yang diabaikan dalam kegiatan tersebut.

Ia menilai bahwa pelatihan ekstrem ini justru berpotensi mencederai calon pekerja alih-alih membangun kapasitas mental yang produktif.

Peringatan Pakar: Pelatihan berbasis fisik ekstrem yang mengabaikan standar keselamatan kerja (K3) murni membahayakan peserta dan mencederai esensi pembinaan profesional yang manusiawi.

Saya kira pelatihan tersebut berisiko besar terhadap calon pekerja dan tidak mendukung keselamatan mereka, tegas Timboel.

Baca Juga: Bursa Transfer Makin Membara! John Stones Resmi Tinggalkan Man City, Rekor Mewah Premier League Pecah!

Menanti Klarifikasi Resmi

Hingga berita ini diturunkan, publik dan berbagai elemen masyarakat masih menantikan klarifikasi resmi dari pihak manajemen BPJS Ketenagakerjaan.

Apakah kegiatan tersebut merupakan bagian dari modul resmi perusahaan, ataukah merupakan inisiatif dari pihak ketiga selaku penyelenggara pelatihan (vendor) yang kecolongan dalam merancang metode outbound yang aman dan manusiawi?(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman